My Mom doesn’t Love Me Anymore

This writing contains drama better scroll and save your time

Aysel Larasaty
4 min readMay 22, 2023
Photo by Josh Applegate on Unsplash

Jadi karena rumah kami insyaaAllah akan kedatangan orang baru (entah bayi, entah calon mantu baru untuk baba dan ibu), bulan ini di rumah sedang melakukan renovasi. Selama enam tahun belakangan rumah memang sering direnovasi, selain karena memang sudah berusia cukup renta, beberapa kayu yang menjadi rangka plafon dan kusen sudah lama menjadi santapan rayap.

Tapi gak tau ya, memang masa pakai sebuah rumah itu yang wajar berapa lama ya? Soalnya menurut Baba, rumah yang kami tinggali sudah dibangun dari tahun 50-an yang berarti sudah bertahan selama kurang lebih 70 tahun. Jadi kalau masa pakai sebuah rumah yang wajar adalah 50 tahun, rumah kami baru melewati 20 tahun. Itu berarti belum bisa disebut rumah tua ya? Setidaknya sepakati saja demikian, haha.

Nah, selama proses renovasi kali ini, kami membongkar sebuah kamar yang sejak saya kecil pun tidak pernah dibongkar. Jadi selama 25 tahun lebih kamar tersebut tidak ditempati dan menjadi gudang yang gelap. Saya tentu saja tidak ikut momen pembersihan gudang ini karena alergi debu, kalau dipaksakan, saya bisa bersin 10K kali, haha. Ada sekitar empat lemari yang berisi baju dan buku-buku yang sayangnya kebanyakan sudah menjadi pasokan bertahan hidup rayap-rayap sebelum bermetamorfosis menjadi laron.

Proses pembongkaran ini memakan waktu seharian dan cukup melelahkan, mungkin juga meninggalkan kesan yang kurang baik untuk Ibu saya. Makanya Ibu beberapa kali menasehati saya untuk menyeleksi buku-buku saya.

Sebenarnya, saya memang sempat tidak nyaman dengan membaca buku-buku fisik karena harus menyimpannya di rak dan ketika mau dibaca kembali, buku-buku tersebut menguning dan berdebu. Setiap kali membaca kembali buku-buku yang berdebu, bisa dibilang saya perlu melalui proses yang melelahkan, karena saya harus membersihkan buku tersebut dengan kain lembab. Setelah bersih pun, saya belum tentu selamat dari debu yang kasat mata. Beberapa kali saya memanfaatkan e-book dan kebetulan memang menemukan kecocokan serta kemudahan, terlebih dalam membaca buku berbahasa inggris. Jadinya sempat beli beberapa e-book untuk beberapa waktu.

Tapi, tentu rasa ingin memiliki koleksi buku dari beberapa penulis tetap saya miliki. Rasanya sayang saja kalau saya hanya mengoleksi e-book dari penulis kitab terkenal, baik klasik maupun kontemporer, atau buku fiksi dan komik. Kolektor komik dan buku fiksi pasti memahami hal ini. Sebelumnya saya telah mengoleksi beberapa komik dan buku fiksi, namun karena alasan tertentu saya memberikan koleksi berharga terssebut kepada seorang teman, yang tentu saja pada saat itu menerima dengan senang hati karena saya memberikan secara cuma-cuma. Ketahuilah, saya amat menyesali keputusan itu.

Saya ingin kembali mengoleksi novel lima sekawan, sherlock holmes, beberapa komik dan manga. Beberapa puzzle & pajangan juga mulai menarik perhatian saya untuk saya koleksi. Terlebih saya juga mengetahui tips & tricks untuk menjaga buku dan puzzle agar tidak berdebu, salah satu di antaranya adalah membeli lemari yang ditutup dengan kaca. Well, this is lame, tapi ternyata lemari kaca justru melindungi buku dan pajangan dari debu. Saya kira tetap akan berdebu, tapi setelah numpang menaruh tumpukan buku di lemari Baba, akhirnya saya berpikir bahwa berinvestasi untuk membeli lemari (bukan rak) adalah hal yang perlu dipertimbangkan.

Kemana aja, Aysel? Selama ini? Kamu baru tahu kalau menyimpan buku di dalam lemari adalah hal yang sangat bermanfaat bagi buku dan pemilik buku yang tukang bersin sepertimu? Haha

Sayangnya, kejadian membongkar kamar kemarin cukup menimbulkan trauma mendalam bagi ibu saya, sehingga kira-kira dua pekan lalu lah, beliau memberikan maklumat agar anak-anaknya tidak membeli buku fisik lagi. Maklumat ini ditujukan khusus kepada saya, satu-satunya anak di dalam rumah yang — setidaknya — setiap bulan mendapatkan komentar, “Loh kok paket yang dateng buku terus? Gak beli baju? Gak beli make-up?”

Hal ini karena Ibu saya menganggap buku — selain buku kuliah dan sekolah— sebagai hiburan. Sehingga Ibu tidak pernah membelikan kami buku kecuali buku pelajaran, apalagi komik. Pernah di saat kami berusia SD, Ibu menghadiahkan kami komik untuk dibaca, tapi karena kami bertiga adalah tiga bersaudara yang susah rukun, jadilah kami berebutan membaca komik tersebut. Belum ada dua jam komik itu dibeli, komik itu harus berakhir di tempat sampah mall. Lucu kalau ingat, sejak hari itu Ibu tidak pernah membelikan kami buku selain buku pelajaran. Untunglah sekolah-sekolah di Jakarta dulu sudah harus punya perpustakaan, jadi saya menghabiskan waktu saya membaca di sana.

Setelah keluar maklumat itu, saya pun galau, karena aslinya saya ingin membeli sebuah lemari buku yang memiliki dua pintu kaca. Saya pun berencana membeli dua lemari karena ingin mengoleksi puzzle juga. Sampai pernah saya berpikir, apakah ini cara Ibu — lowkey — mengusir saya dari rumah?

Hiks sedih sekali membayangkannya, saya berjalan keluar rumah sambil menggotong buku-buku dengan kain seperti di film-film kartun, haha gak jadi sedih deh ya kalau dibayangkan seperti itu.

Saya juga akhir-akhir ini jadi lebih sensitif dan sering marah-marah karena hal itu, astaghfirullah, padahal mah hal ini bukan berarti Ibu saya mengusir saya dari rumah kan? Tapi terkadang keyakinan saya itu goyah, nampaknya Ibu saya sudah tidak lagi menyayangi saya seperti dulu. (sobbing metaphysically, lol)

Oke, sudah segitu saja saya ceritanya. Semoga saya bisa update tulisan ini dengan berita baik. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira.

--

--

Aysel Larasaty

Engineer who is also a social science & Islamic studies enthusiast.