Life Lately

Nothing matters more than our parents’ health

Aysel Larasaty
8 min readDec 7, 2023

Pernah mendengar atau membaca kalimat singkat ini, gak?
“We are so busy growing up that we often forget our parents also growing old”

Awal Oktober kemarin adalah saat aku merasakan kalimat singkat itu menusuk ke sela jantung sampai-sampai rasanya sesak untuk bernapas, untuk berjalan sulit, menangis segan di depan banyak orang, waktu shalat belum tiba, aku sendirian di IGD menunggu Baba yang terus mengeluh kesakitan dan ingin segera diobati.

Critical Times

Pagi itu Baba collapsed, di waktu shubuh ketika semua bergegas untuk shalat, tetiba tubuhnya lumpuh, dia bilang kalau seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak dan bicaranya ngelantur. Aku yang waktu itu menghampiri Baba karena masih belum sadar kalau beliau collapse, mengguncang-guncang tubuh beliau sambil mengingatkan waktu shalat. Tapi Baba gak bergerak dan ketika aku balik badan beliau, wajahnya pucat, badannya kaku karena panik aku langsung minta Ibu dan adikku bergegas ke IGD Rumah Sakit di dekat rumah.

Jadi sebenarnya Baba memang sudah ada gejala mild stroke di pekan sebelumnya, namun beliau menolak diajak ke Puskesmas atau rumah sakit untuk diperiksa. Tiga bulan belakangan mood beliau sering tidak baik, beliau sering marah meluap-luap selain itu sering begadang hingga dini hari, beliau sering marah kalau diingatkan untuk tidur cepat. Baba aku sudah berusia 70 tahun, sebelum serangan stroke pun bicaranya sudah cukup sering melantur, bodohnya aku saat itu tidak langsung merasa ada yang salah dari Babaku.

Jadi ketika dibawa ke IGD Rumah Sakit, Baba juga melantur dan gak bisa menahan emosinya ke aku karena menurut beliau aku tidak mengusahakan supaya beliau segera bertemu dokter. Beliau pikir beliau cukup rawat jalan saja dan di saat itu aku juga sudah yakin kalau Baba pasti akan dirawat inap. Kondisi beliau saat itu masih kuat menggerakkan kedua tangan dan kaki, hanya saja gak bisa berdiri dan harus pipis melalui kateter. Dari kondisi tersebut aku yakin there’s something wrong, beliau pasti dirawat tapi aku tetap berusaha tenang sambil memperhatikan sekeliling.

Ruangan IGD yang menggunakan sistem Triase mengklasifikasi Baba di warna hijau, jadi aku bisa sedikit membaca kondisi bahwa meskipun Baba perlu dirawat tapi masih dapat ditangani dan dipantau oleh dokter IGD. Tapi semua orang di keluargaku panik, ibuku panik, adik-adikku panik, om ku juga panik, mereka semua merasa penanganan IGD terlalu lama dan memaksa untuk pindah Rumah Sakit. Waktu itu semua orang setuju untuk memindahkan Baba ke RS Pusat Otak Nasional, tapi setelah aku menjelaskan bagaimana kondisi Baba saat menggerakkan tangan dan kaki, kemudian hasil X-Ray dan MRI, keluargaku sepakat untuk tidak jadi memindahkan Baba.

Sampailah hingga waktu Baba harus menjalani berbagai pemeriksaan untuk memudahkan dokter untuk melakukan diagnosa, yang agak mengkhawatirkan sebenarnya adalah kondisi Baba yang harus mendapatkan penanganan stroke dengan mengonsumsi obat pengencer darah dan tindakan Digital Subtraction Angiography (DSA). Tapi aku bingung juga karena beliau mengalami pendarahan dan mengeluh kesakitan ketika harus BAK. Ternyata beliau mengalami komplikasi sehingga penanganan difokuskan pada ginjal dan kandung kemih beliau terlebih dahulu dan operasi ginjal beliau pun harus dilakukan.

Dari hari pertama Baba dirawat, aku gak mau sehari pun gak ada di samping beliau, meskipun aku kerja tapi malam harinya aku bisa jaga. Jujur sejak hari itu pun aku sudah gak bisa lagi fokus dengan pekerjaanku karena Baba aku kondisinya kritis, fluktuatif dan masih pendarahan setiap hari. Pendarahannya disebabkan Baba aku terlanjur mengonsumsi obat pengencer darah di awal masuk RS dan tindakan operasi baru bisa dilakukan setelah lima hari berhenti mengonsumsi obat pengencer darah. Jadi selama lima hari itu Baba kesakitan dan mengalami pendarahan yang cukup banyak.

Aku sempat mengira ini semua adalah saat terakhirku bersama Baba, jadi hari-hariku sangat kelabu, susah makan, susah kerja, susah berkomunikasi dengan orang lain karena setiap membahas Baba di kepala aku kayak muncul tabs yang berisi berbagai strategi yang harus aku lakukan kalau terjadi hal buruk, I did prepare for the worst. Pokoknya yang aku pikirkan kasihan Baba aku kesakitan jadi bagaimana caranya supaya Baba lekas sehat. Setiap hari gak berhenti merayu Allah supaya Dia panjangkan usia Babaku sampai sepuluh atau lima belas tahun lagi dalam keadaan sehat dan usia yang berkah.

Sampai di hari operasi, meskipun dokternya bilang operasinya gampang dan chance berhasilnya besar, aku tetap kesulitan mengontrol diriku untuk tenang. Setelah Baba masuk ruang operasi yang aku cari adalah masjid untuk shalat, berdoa dan merendahkan diriku serendah-rendahnya.

Mungkin memang harus begitu ya, sakitnya Baba kali ini bikin aku, mau gak mau, memaksa diri untuk pasrah, berserah, dan menerima diri sendiri ketika aku di titik gak bisa lagi menenangkan diri sendiri. Aku harus menerima bahwa ada satu titik di mana aku tidak bisa menjadi diriku yang santai, tenang, dan tegar seperti biasanya. Bukan berarti selama ini aku berpura-pura tegar dan kuat, enggak, aku sungguh kuat. Tapi kali ini aku memang dipaksa untuk mengakui kalo aku adalah hamba yang memiliki kelemahan, gak kuat, gak tegar dan bahkan adalah orang yang paling butuh ditenangkan. Semua pernyataan dokter yang di pagi hari aku terima dengan tenang, di malam hari, di setiap menemani Baba, aku gak berdaya.

Aku gemetar, lemah, takut merasakan kehilangan teramat dalam. Aku cuma bisa meluapkan dan menunjukkan kasih sayang dan cintaku ke Baba, lewat doa, lewat tindakan, lewat lembutnya kata. Lucunya, doa itu jadi yang tersulit, karena dalam doa aku harus memaksa diriku untuk pasrah dan ikhlas, terhadap sesuatu yang gak ku ketahui. Tapi di sisi lain, yang aku punya hanya doa. Semua hal yang aku lakukan ke Baba gak berarti kalau aku gak berdoa, gak pasrah, gak menyerah, dan karena cinta, aku bersedia melakukan itu semua.

Setelah Baba selesai dioperasi, lumpuhnya semakin parah karena beliau belum boleh mengonsumsi obat-obatan untuk mengurangi stroke, sehingga beliau tidak bisa menggerakkan tubuh sebelah kirinya. He’s all right, literally, because all the lefts are dysfunctioning. Aku gak langsung menemui Baba selesai operasi aku cuma mau menemui beliau sendirian karena batas waktu masuk ke ruang ICU hanya 10 menit. Kirain aku tetap akan bisa cool menyapa Baba karena semua kesedihan sudah aku luapkan saat shalat dan berdoa, ternyata aku salah, aku malah menangis saat melihat wajah beliau, mendengar beliau memanggilku dengan nama lengkap, dan mengatakan aku anak yang beliau sayang.

Setelah beberapa hari dirawat, Baba mulai menjalani rawat jalan. Namun ternyata di hari ke-delapan rawat jalan, Baba collapsed dan qadarullah harus diopname kembali. Ini juga adalah moment di mana aku merasa amat sangat rapuh dan tidak berdaya, karena di saat Baba sedang ada di golden period penyembuhan stroke yaitu enam bulan pertama. Beliau malah disarankan untuk tidak bisa menjalankan operasi DSA, operasi kedua beliau, sehingga pengobatan yang disarankan adalah fisioterapi saja. Ini disebabkan sebelum melakukan DSA, Baba harus menjalani beberapa medical treatments yang menyebabkan Baba harus mengonsumsi obat pengencer darah dengan dosis bertahap. Sedangkan beliau mengalami pendarahan setelah mengonsumsi obat pengencer darah.

Setelah beberapa hari dari diagnosa tersebut, Baba boleh kembali pulang dan menjalani pengobatan ginjal beliau. Kami juga inisiatif mengikutkan Baba fisioterapi di luar yang dijadwalkan oleh Rumah Sakit. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam, per hari ini Baba aku sudah tujuh hari menjalani stroke medical treatment, kami semua berharap medical treatments kali ini lancar dan tidak terkendala sehingga Baba bisa melakukan operasi DSA.

Bizarre Experiences and Silver Linings

Dari Baba masuk RS, setiap dini hari aku selalu mendengarkan teriakan pasien yang kesakitan dan kenceng banget, satu lorong rumah sakit kayaknya mendengar teriakan orang ini. Aku gak tahu dia sakit apa, tapi setelah lewat jam isya’ pasti dia teriak-teriak kesakitan, kadang di siang hari teriak selain di malam dan dini hari. Kadang dia teriak menyebut nama Allah, kadang cuma teriak aja. Terus kekuatan dia teriak tuh ga berkurang jadi selalu kuat banget, makanya aku pasti dengar padahal kamar dia dan baba aku tuh berjarak tiga kamar dan berseberangan. plus kamar rumah sakit tuh hampir pasti setiap malam sepi karena kedap suara pintunya. Jadi semoga bisa terbayang suara orang ini sekencang apa. Aku gak berani ngebayangin dia sakit apa sampai rasa sakitnya separah itu. Gak lama, kalau gak salah setelah lima hari Baba dirawat, beliau wafat. Ternyata itu sakaratul maut beliau. Allahumaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa fu anha.

Setelah Baba rawat jalan, demensia Baba juga semakin buruk, beliau sempat tidak mengenali aku. Bahkan setiap aku melakukan fisioterapi harian yang dianjurkan dokter untuk beliau, beliau teriak kesakitan sambil meneriaki aku pembunuh yang mencoba untuk menghilangkan nyawanya. Beberapa kali beliau juga memukul aku karena ketakutannya padaku setiap kali aku akan melakukan terapi. Mohon maaf ya aku jadi menulis tentang perasaan sedihku melulu, tapi hari-hariku memang penuh dengan kesedihan setelah beliau sakit, pun tidak ada yang bisa memvalidasi perasaan sakit dan sedihku saat Baba memperlakukan aku demikian.

Aku tahu seharusnya aku banyak maklum ke Baba, tapi di saat ini aku juga merawat Baba sambil menyembuhkan luka yang beliau sebabkan kepadaku. Jadi aku merasa semua rasa sakit aku sebelumnya juga kembali luka, beliau juga mengatakan semua kekecewaannya padaku dengan gamblang dan aku membiarkannya karena aku tidak yakin kalau beliau mengatakannya dengan sadar. Perasaan yang, bahkan adikku, orang yang paling dekat dengan aku, gak bisa pahami. Sehingga ketika aku cerita, aku justru disalahkan sebelum didengarkan. Tapi aku juga tidak menganggap ketidakmampuan seseorang untuk memvalidasi perasaan dan berempati kepada orang lain sebagai sebuah kejahatan, itu simply kekurangan seseorang saja.

Aku cuma bisa ingat-ingat terus perkataan temanku yang punya pengalaman merawat ayahnya sakit juga, malah dia harus merawat selama tiga tahun dan melalui masa-masa covid. Dia bilang pasti akan berat, capek, dan melelahkan karena pasti akan sulit menahan emosi. Tadinya aku denial ya, mungkin berbeda antara daughters and sons, and I also was like, I forgive him after all this time and I will love him for the rest of my life. Memang sih, ngomel dan kesel bukan pengecualian dari rasa cinta, tapi berat hati itu ada, apalagi aku hanya manusia biasa yang rasa ikhlasnya cenderung kalkulatif. Jadi pasti ada upaya setan untuk menggerus keikhlasan. So, I take that advice along the way, I hope he & his family are going well and Allah gives endless Rahiim and Jannah for his father, Aamiin.

Meski demikian, di saat beliau sedang ingat aku, beliau kerap memberikan pujian-pujian gombal dan sebenarnya aku geli juga hahaha, I can’t resist. Setiap pagi beliau menyapa aku dengan, “Pagi dokter Aysel!” atau beberapa kali beliau mengatakan, “dihati Bapak kamu seperti rawon…” Like apa sih???? hahaha Gak mempan tau, gak! LOL, sweet things happened. Alhamdulillah.

Things I’m Proud Of

Meskipun nampaknya semakin jelas kalau I am not anyone’s favorite here in the family, but I still have to force it at least I’ll be the only one who does love myself when the world doesn’t, right?? So here are the things I’m proud of myself. I am a good decision-maker, and I can think clearly under pressure, I forgive, and I don’t give up.

Lesson Learned

Ternyata kalimat yang aku tulis di awal kalimat itu tidak sepenuhnya benar, “Because sometimes we are not only busy growing up, we’re also busy to fill the void inside our hearts with something else only to keep the childhood wounds open other than trying to forgive our parents. We don’t try much to forgive them until the day it feels like it’s too late for us, yet we deny it is too late. We think it’s even, they deserve our acts of revenge because they abandoned us after all this time…” Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau orang tua kita merasa kita terlambat untuk memohon maaf?

I know I might not be the best child of his and he doesn't treat me well either, but I know I need to stop this cycle. I should be the last one who wounded, I’ll treat my offspring with love and responsibility. May Allah help me to be a good wife and mother.

Akhirnya aku kembali berdoa, semoga Allah sembuhkan Baba, cintaku, sayangku, dunia akhiratku.

--

--

Aysel Larasaty

Engineer who is also a social science & Islamic studies enthusiast.