Begini Rasanya Menjadi Guru

Rasanya kepingin jadi Guru, Pengajar, Dosen, atau Pendidik selamanya, melihat perkembangan murid itu nikmat yang tidak bisa didustakan

Aysel Larasaty
5 min readDec 1, 2021
Photo by NeONBRAND on Unsplash

Untuk membicarakan kiprah di dunia pendidikan, saya masih termasuk baru. Bahkan, untuk beberapa bidang keilmuan, saya masih seorang murid kemarin sore. Eh, malahan dunia pendidikan itu juga masih terlalu luas untuk saya bicarakan, karena saya baru empat bulan menjadi guru, itu pun guru homeschooling mata pelajaran SMA di sebuah lembaga pendidikan.

Baru empat bulan saya mengajar, bukan sebagai guru bimbel, melainkan sebagai guru yang menyediakan materi pembelajaran di sekolah. Kami diberikan kurikulum, menyesuaikan sekaligus mengembangkan sistem, menyiapkan materi pelajaran, membuat rangkaian kuis dan tugas, juga memperhatikan perkembangan belajar murid. Lembaga pendidikan tersebut juga masih terbilang baru, setahu saya belum sepuluh tahun. Jadi masih mengalami penyesuaian di sana-sini, entah mengapa Allah kerap mentakdirkan saya untuk menangani semacam organisasi atau komunitas yang baru berumur jagung. Sehingga saya melihat banyak peluang untuk memperbaiki dan mengembangkan.

Memilih guru homeschooling pun merupakan ketidaksengajaan karena saya memang tidak berlatar belakang sarjana pendidikan, ‘kepakaran’ saya adalah sarjana ilmu terapan yang sangat khusus yakni teknik mesin dengan konsentrasi teknik konversi energi. Tetapi entah mengapa atasan saya mempercayakan saya untuk mengajar mata pelajaran Fisika, sesuai dengan yang saya ajukan, sih. Cukup senang dipercaya padahal beliau bisa saja memilih orang yang memiliki latar belakang pendidikan Fisika. Saya pun cukup percaya diri karena selain saya menyukai mata pelajaran tersebut selama SMA, salah satu alasan saya memilih jurusan teknik, setelah gagal masuk kedokteran di universitas negeri, adalah karena saya merasa percaya diri dengan kemampuan saya di bidang ilmu yang menjadi dasar keilmuan di jurusan teknik.

Ya begitulah, long story short, tak terasa sudah empat bulan. Tulisan ini pun dibuat saat menyadari bahwa tenggat waktu mengumpulkan soal UAS yang akan diselenggarakan pekan depan tersisa beberapa jam, haha. Mungkin berbagi tentang persiapan yang dilakukan guru dalam mengajar tidak semenarik bila dibandingkan dengan respon murid-murid, apalagi perkembangan mereka di kelas.

Di awal mengajar, meskipun sekarang juga belum bisa disebut sudah berlangsung lama, sih. Tetapi sejak awal memang merasa murid-murid di sini memiliki karakter yang berbeda dengan murid-murid di sekolah negeri atau swasta. Saya yang dulunya adalah murid dari sekolah negeri tentu merasakan perbedaan yang signifikan dari karakter murid-murid di sini. Bisa dikatakan sayup-sayup yang kini kerap digaungkan oleh mantan murid yang disakiti secara mental oleh gurunya dulu karena dicap tidak akan jadi orang sukses hanya karena tidak mendapatkan nilai mendekati sempurna di mata pelajaran yang diajarkannya, berlaku di sini.

Dalam mengajar, tentu saya menyadari hal itu, “Ya memang menguasai Fisika atau mendapatkan nilai 100 di mata pelajaran ini tidak menjamin kesuksesan kalian ketika dewasa karena banyak variabel yang harus dipenuhi untuk sukses, terlebih kita sebagai seorang muslim tidak memandang kesuksesan terbatas pada pencapaian dunia. Tapi, sekolah ini adalah amanah dari orang tua kalian dan kalian bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Nah dari situ lah, kalian akan belajar disiplin dan bertanggung jawab, itulah yang lebih kalian butuhkan dalam menjalani hidup,” begitu kurang lebih yang saya sampaikan kepada beberapa murid saat salah seorang mengadukan ada temannya di kelas lain yang bolos kelas, padahal dia datang ke sekolah.

Mungkin saya juga tidak sepenuhnya benar ketika menyampaikan hal tersebut kepada murid-murid saya, beberapa di antara kita ada yang berpendapat bahwa sekolah atau guru perlu menindak tegas dan mengajarkan disiplin ala stick and carrot. Tetapi, sekali lagi, hal itu tidak dapat diterapkan di semua lingkungan yang memiliki variabel yang berbeda. Selain itu, guru saya, Dr. Ardiansyah pernah mengingatkan kepada murid-muridnya yang berprofesi sebagai guru untuk tidak marah kepada murid-muridnya sebab marahnya seorang guru kepada murid dapat mengurangi berkah ilmu yang didapatkan si murid. Kita memang perlu belajar melapangkan hati agar selalu sabar dan ikhlas dalam mengajar. Beuh, nasihat itu menancap betul di hati saya, beliau pasti sedemikian ikhlas dalam menyampaikannya.

Perkara ikhlas, saya masih jauh banget, deh. Soalnya masih sebal ketika belajar daring tetapi murid-murid gak ada yang mau nyalain video meski sudah diminta oleh gurunya. Kadang sedih juga ketika murid ada yang sengaja tidur selama materi berlangsung, gak bawa tas dan buku, gak pernah mau hadir kelas, gak bikin tugas, atau bikin reels di saat kelas sudah dimulai dan berbagai kelakuan yang sangat jarang kita temui di sekolah kebanyakan.

Some of you might say that it’s not the proper place to use ‘ikhlas’, because of these kind of students don’t know how to behave in front of their teacher, they’re lost the adab upon their teachers, etc.

Pernyataan semacam ini bisa saja benar, akan tetapi saya lebih memilih untuk memberikan respon seperti: “Ya, memang ini lebih tepat jika dikatakan sebagai perkara bersabar, bukan ikhlas, tapi sabar itu kan juga muara dari ikhlas” dibandingkan harus menggunakan perspektif guru-guru yang menangani anak-anak di sekolah pada umumnya karena seperti yang saya katakan di awal tadi, murid-murid di sekolah kami memiliki variabel yang berbeda dari kebanyakan murid di luar sana, tiap variabel yang tidak ingin saya bicarakan di sini dan tiap variabel itu juga yang menguatkan karakter masing-masing dari mereka.

Perihal bersabar dan ikhlas, saya memang bukan jagonya, payah lah menghadapi mereka semua jika tidak dibersamai dengan mendengar cerita dari guru-guru lain, menerima nasihat dari guru-guru atau mengingat kenakalan dan kelakuan tidak beradab yang juga saya lakukan semasa sekolah, namun guru-guru saya tetap bersabar menghadapi saya bahkan saya masih mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka ajarkan dahulu.

Ketidaksabaran yang saya alami juga kerap Allah basuh dengan hal-hal yang membuat saya tersenyum di sekolah, hal-hal sederhana seperti satu-dua murid yang tidak pernah bisa menerima materi memberanikan diri untuk maju mengerjakan soal, padahal saya tidak menunjuk mereka. Kemudian mereka berusaha mengerjakan kuis tanpa mencontek, meski saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya tidak mengawasi, tetapi kita kan hanya perlu menilai sesuatu berdasarkan ilmu yang kita ketahui saja, bukan pada prasangka alias zhan meski memiliki persentase kebenaran hingga tujuh puluh persen. Keberanian mereka membuat saya sedikit lega karena setidaknya ini merupakan respon atau hasil dari pengajaran yang tidak intimidatif, sementara dapat disimpulkan demikian.

Ala kulli hal, tentu perjalanan dan pengalaman saya mengajar masih harus dikembangkan, dimodifikasi, dan banyak yang harus diperbaiki dari sana-sini. Semoga Allah perkenankan saya belajar hingga dapat mengamalkan dan bermanfaat kepada orang lain dengan menjadi guru. Semoga murid-murid yang kami ajar dapat menyerap ilmu, tentu doa ini kami layangkan disebabkan kami sebagai penuntut ilmu memahami terkadang sampainya ilmu kepada jiwa membutuhkan waktu. Semoga Allah lindungi dan berkahi anak-anak kami.

Wa’idza sa’alaka i’badi ‘anni fa’inni qaribun ujibu da’watad daa’i idza da’aan fal yastajibuuli wal yu’minuubii la’allahum yarsyudun.

Dalam gelap temaram nan teduh langit berawan.
Depok, December 2021.

--

--

Aysel Larasaty

Engineer who is also a social science & Islamic studies enthusiast.