Apa itu Ta’at?

Allah amat menyukai hamba-hambaNya yang mengerjakan amalan wajib karena hal tersebut merupakan sebuah cara untuk ber-taqarrub kepada Allah

Aysel Larasaty
2 min readAug 3, 2022

Bagian pertama dari kitab ini adalah ta’at. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa perintah Allah terbagi dua yakni Amalan Fardhu dan Amalan Nawafil. Amalan Fardhu adalah modal, sumber kita berniaga dan dari modal tersebut lah kita akan mendapatkan keuntungan. Sedangkan amalan Nawafil adalah keuntungan lain, dengan mengamalkannya setelah amalan fardhu, akan mendapatkan keuntungan berupa derajat yang lebih tinggi.

Ada satu hadits qudsi yang menjadi pembahasan ketaatan ini, “Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya[1]

Dr. Ardiansyah menjelaskan bahwa hadits ini menjelaskan betapa Allah amat menyukai hamba-hambaNya yang mengerjakan amalan wajib karena hal tersebut merupakan sebuah cara untuk ber-taqarrub kepada Allah. Padahal amalan wajib itu adalah sesuatu yang bila dikerjakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan mendapatkan dosa. Namun, di hadits ini tahap awal untuk mendapatkan cinta Allah adalah dengan melakukan hal yang wajib. Mungkin jika manusia mengaku bahwa ia mencintai Allah itu sudah merupakan hal yang biasa karena memang manusia membutuhkan Allah. Namun, jika Allah pemilik semesta ala mini menyatakan bahwa Dia mencintai makhluk-Nya itu adalah hal yang luar biasa, oleh sebab itu marilah berupaya untuk mengejar cinta Allah.

Adapun kalimat “…Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan…” tidak boleh dipahami secara tekstual (mutasyaabihat) seperti golongan tertentu yang menganggap pada maqom tertentu seorang hamba akan mampu mengindra seperti Allah. Hal tersebut tidak mungkin karena tidak ada satu apapun di muka bumi ini yang sama dengan Allah.

Syeikh Imam An-Nawawi Al Bantani mengatakan bahwa yang dimaksud dari kalimat tersebut adalah nanti semua indra tersebut akan dijaga Allah, anggota tubuhnya tidak akan bergerak kecuali dalam ridho Allah dan ia takkan pernah merasa tenang bila akan melakukan perbuatan maksiat.

Nah, Imam Al Ghazali mengatakan bahwa kita takkan mampu menjalankan perintah Allah apabila kita tidak merasa hatii kita dipantau oleh Allah. Oleh karena itu, beliau mewasiatkan agar kita berusaha dengan keras jangan sampai Allah melihat kita berada di tempat yang Allah larang dan jangan sampai Allah tidak menemukan kita di tempat yang kita semua diperintahkan untuk berada disana. Agar mampu melakukan ketaatan kepada Allah maka kita wajib membagi waktu, menyusun rutinitas dari pagi hingga malam dan dari bangun tidur hingga tidur lagi.

[1] HR. Al-Bukhâri 6502 Fathul Bârî (11/348).

--

--

Aysel Larasaty

Engineer who is also a social science & Islamic studies enthusiast.